News Info For All

News Info For All

Rahasia Makrifat Akhirat #1




Rahasia makrifat pertama ialah,  Quran Syarif berulang-ulang mengatakan bahwa alam akhirat bukanlah suatu barang baru, melainkan segala pemandangannya merupakan pantulan dan dampak-dampak kehidupan di dunia ini juga, sebagaimana Dia berfirman:
وَكُلَّ إِنْسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنْشُورًا
Yakni, di dunia ini  juga Kami telah mengikat dampak amal perbuatan setiap orang  pada lehernya, dan dampak-dampak terselubung itulah yang akan Kami zahirkan (jelmakan/munculkan) pada Hari Kiamat, dan Kami akan memperlihatkan dalam bentuk sebuah daftar  amal perbuatan yang terbuka (QS. Bani Israil[17]:14). Di dalam ayat ini terdapat kata  thaairun, maka hendaklah jelas bahwa  sebenarnya thaairun itu berarti burung, lalu secara kiasan diartikan juga sebagai amal perbuatan. Sebab setiap amal – yang baik maupun yang buruk – setelah dilakukan akan terbang seperti burung. Jerih-payahnya ataupun kelezatan amal itu akan sirna sedangkan kekotoran atau pun kebaikannya akan membekas di hati.
         Ini merupakan kaidah  Quran Syarif bahwa setiap amal terus membekas jejak-jejaknya secara terselubung. Bagaimana pun bentuk amal perbuatan manusia, sesuai dengan itu Allah Ta'ala akan memperlihatkan perbuatan-Nya. Dan perbuatan Ilahi itu tidak akan membiarkan  dosa atau kebaikan  tersebut menjadi sia-sia, melainkan jejak-jejaknya akan dituliskan pada hati, wajah, mata, tangan, kaki. Inilah yang secara terselubung merupakan daftar suatu amal perbuatan, yang akan zahir   secara terbuka pada kehidupan akhirat.
         Kemudian berkenaan dengan para penghuni surga di tempat lain Dia berfirman:
يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَى نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ
Yakni, pada hari itu pun cahaya keimanan yang diperoleh orang-orang mukmin secara terselubung akan tampak berlari-lari secara terbuka di depan dan di kanan mereka (QS. Al-Hadid[57]:13). Di tempat lain Dia berfirman kepada orang-orang yang berbuat buruk:
Yakni, keinginan  dan ketamakan berlebih-lebihan akan dunia telah merintangi kamu mencari akhirat hingga kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah lekatkan hati kamu kepada dunia. Kamu segera akan mengetahui bahwa melekatkan hati pada dunia tidaklah baik. Sekali lagi Aku mengatakan bahwa, segera kamu akan mengetahui melekatkan hati  pada dunia tidaklah baik. Jikalau kamu memperoleh ilmu yang pasti  niscaya di dunia ini juga kamu akan melihat neraka, kemudian di alam barzakh kamu akan melihat  dengan penglihatan-penglihatan yang pasti, lalu kamu akan diminta pertanggungjawaban sepenuhnya pada Hari Kebangkitan, dan azab dalam bentuk  penuh akan menimpa diri kamu. Dan bukan hanya melalui ucapan saja melainkan melalui kondisi itu sendiri kamu akan memperoleh pengetahuan tentang neraka (QS. At-Takatsur[102]: 2-9).
   
Tiga Macam Ilmu

        Di dalam ayat-ayat ini Allah Ta'ala menerangkan dengan jelas bahwa bagi orang-orang jahat di dunia ini ada kehidupan neraka terselubung. Dan  jika mereka memperhatikannya mereka akan melihat nerakanya masing-masing di dunia ini juga. Dan di sini Allah Ta'ala membagi ilmu dalam tiga tingkat, yakni: 'ilmul-yaqin, 'ainul yaqin dan haqqul-yaqin.
         Agar dapat secara umum memahaminya, berikut ini adalah contoh-contoh ketiga ilmu tersebut. Misalnya, jika seseorang melihat dari jauh kepulan asap tebal di suatu tempat, maka pikirannya menghubungkan kenyataan tersebut kepada api dan ia yakin bahwa di sana ada api, karena antara asap dan api ada hubungan yang tidak terpisahkan. Di mana ada asap di sana pasti ada api. Ringkasnya,  pengetahuan yang demikian dinamakan 'ilmul-yaqin. Kemudian ketika dilihatnya nyala api maka pengetahuan demikian dinamakan  'ainul-yaqin, sedangkan jika ia sendiri masuk ke dalam api,  pengetahuan  demikian dinamakan haqqul-yaqin.
         Jadi, Allah Ta'ala berfirman bahwa 'ilmul-yaqin tentang adanya neraka dapat diperoleh di dunia ini juga, kemudian di alam barzakh akan diperoleh 'ainul-yaqin, dan pada Hari Kebangkitan pengetahuan itu juga yang akan sampai pada tingkat sempurna yaitu haqqul-yaqin.

Tiga Alam

         Di sini hendaknya jelas bahwa menurut  Quran Syarif terbukti ada tiga macam alam:
         (1) Alam pertama ialah   dunia yang dinamakan alam kasab (alam usaha) dan  nisya ula (alam kejadian pertama).
         Di dunia inilah manusia melakukan kebaikan atau keburukan. Walaupun di  alam kebangkitan akan ada kemajuan-kemajuan bagi orang-orang yang berbuat kebaikan, tetapi itu hanyalah merupakan karunia Tuhan. Di sini tidak ada campur-tangan upaya manusia.
          (2) Alam kedua dinamakan barzakh. Sebenarnya kata barzakh di dalam bahasa Arab ditujukan kepada sesuatu yang ada di tengah-tengah dua benda. Jadi dikarenakan periode ini ada di antara alam kebangkitan dan alam kejadian pertama (nisya ula) untuk itulah dinamakan barzakh. Akan tetapi kata itu sejak awal dan sejak dunia diciptakan telah digunakan untuk menunjukkan alam pertengahan.  Oleh sebab itulah di dalam kata tersebut terselubung suatu kesaksian agung tentang adanya alam pertengahan itu.
         Kami telah  membuktikan didalam buku Minan-ur-Rahmaan bahwa perkataan-perkataan bahasa Arab adalah keluar dari mulut Tuhan, dan inilah satu-satunya bahasa di dunia yang merupakan bahasa Tuhan Yang Mahasuci, bahasa yang sudah ada sejak awal,  sumber segala ilmu pengetahuan,   induk segala bahasa,  dan merupakan singgasana awal dan terakhir bagi wahyu Tuhan. Dikatakan sebagai singgasana awal bagi wahyu Tuhan, karena seluruh bahasa Arab merupakan  Kalam Tuhan yang sejak dari awal menyertai Tuhan. Kemudian Kalam itu turun ke dunia dan dunia telah menjadikannya sebagai bahasa mereka. Dan dikatakan sebagai  singgasana terakhir bagi wahyu  Ilahi, karena Kitab terakhir Allah Ta'ala --  yaitu  Quran Syarif --  telah diturunkan dalam bahasa Arab.
         Jadi, kata barzakh berasal dari bahasa Arab dan merupakan paduan dari kata زَخَّ (zakhkha)  danبَرَّ  (barra), yang artinya "jalan upaya untuk beramal sudah berakhir dan sudah masuk ke dalam suatu kondisi yang terselubung".
         Keadaan barzakh adalah suatu keadaan ketika  wujud manusia yang fana (tidak kekal) ini menjadi terurai,  ruh terpisah dan tubuh pun terpisah. Sebagaimana yang nampak yaitu tubuh dimasukkan ke dalam suatu lubang sedangkan ruh dimasukkan ke dalam semacam lubang juga, seperti yang terungkap  dari kata zakhkhaa. Sebab ruh tidak dapat melakukan perbuatan baik maupun buruk, seperti yang biasa dilaksanakannya ketika mempunyai pertalian dengan tubuh.
          Adalah jelas bahwa sempurnanya kesehatan ruh bergantung pada tubuh. Akibat luka pada satu bagian tertentu di otak, maka daya ingat menjadi hilang, sedangkan   akibat cedera pada bagian lainnya, kemampuan berpikir menjadi hilang dan segala kesadaran jadi lenyap. Dan apabila di dalam otak terjadi kekejangan, bengkak, atau penggumpalan darah, atau penggumpalan zat lain -- sehingga timbul penyempitan yang bersifat sementara atau permanen --  maka seketika itu juga dapat mengakibatkan pingsan, ayan, atau serangan lumpuh.
        Jadi, pengalaman kita sejak dulu mengajarkan secara pasti bahwa ruh kita, tanpa adanya hubungan dengan tubuh sama sekali tidak akan berarti. Oleh karena itu amat keliru jika kita beranggapan bahwa pada waktu tertentu  ruh kita secara mandiri – tanpa disertai tubuh – dapat memperoleh kebahagiaan. Jika mempercayainya sebagai suatu cerita, silakan, tetapi secara akal tidak ada dalilnya. Kami sama sekali tidak dapat mengerti bahwa ruh – yang tidak berdaya akibat gangguan-gangguan kecil pada tubuh --  bagaimana mungkin pada hari itu akan berada dalam keadaan sempurna, padahal hubungannya dengan tubuh diputuskan sama sekali. Tidakkah pengalaman sehari-hari mengajarkan kepada kita bahwa untuk kesehatan ruh mutlak adanya kesehatan tubuh? Tatkala seseorang di antara kita menjadi tua-renta maka beriringan dengan itu ruhnya menjadi tua. Seluruh kekayaan ilmu pengetahuannya hilang termakan oleh usia lanjut, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:
لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِنْ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئًا
Yakni,  sesudah manusia menjadi tua sampailah ia kepada keadaan ia lupa sama sekali kepada  ilmu yang pernah diperolehnya (QS. Al Hajj[22]: 6).
         Jadi, kesaksian kita ini cukup menjadi dalil atas kenyataan bahwa ruh tanpa tubuh tidak akan bermakna sama sekali.  Kemudian pemikiran ini pun menarik perhatian manusia kepada hakikat,  bahwa seandainya  ruh tanpa tubuh merupakan sesuatu yang bermakna maka  perbuatan Tuhan -- tanpa alasan   -- mengaitkan (menghubungkan) ruh dengan tubuh yang fana (tidak kekal) ini menjadi sia-sia. Dan patut pula direnungkan bahwa Allah Ta'ala telah menciptakan manusia untuk meraih kemajuan-kemajuan tak  terbatas.  Jadi kalau dalam keadaan   hidup yang singkat ini saja kemajuan-kemajuan tidak dapat dicapai  ruh  tanpa keikut-sertaan tubuh, maka bagaimana mungkin dapat diharapkan bahwa kemajuan yang tidak terbatas dan tanpa tepi itu mampu dicapai   ruh  tanpa keikut-sertaan tubuh?
        Jadi, dari semua keterangan ini terbukti bahwa  -- menurut prinsip Islam --   untuk terlaksananya pekerjaan-pekerjaan ruh secara sempurna,  keikutsertaan  tubuh pada ruh adalah kekal. Walaupun tubuh yang fana (tidak kekal) ini sesudah mati akan terpisah dari ruh, tetapi di alam barzakh tiap-tiap   ruh akan mendapat suatu tubuh sementara guna mencicipi cita-rasa buah amal perbuatannya. Tubuh tersebut bukanlah dari jenis tubuh ini melainkan ia dipersiapkan  dari suatu nur (cahaya), atau kebalikannya, dari kegelapan, sesuai dengan keadaan amal perbuatan. Seolah-olah di alam barzakh itu keadaan-keadaan amal manusia menjalankan peran sebagai tubuh. Demikianlah berkali-kali disebutkan dalam Kalam Ilahi  bahwa sebagian dinyatakan    tubuh cahaya dan sebagian lagi dinyatakan tubuh kegelapan, yang terbentuk dari cahaya amal perbuatan atau dari kegelapan amal perbuatan. Kendati pun rahasia ini amat mendalam akan tetapi bukanlah tidak masuk akal.
         Seorang insan kamil (manusia sempurna) di dalam kehidupan di dunia ini juga dapat memperolah suatu tubuh cahaya di samping tubuh kasarnya. Dan di dalam kasyaf banyak  terdapat contoh-contohnya. Meski pun sulit memberikan pemahaman kepada orang-orang yang akalnya terbatas pada pengetahuan lahiriah saja, namun orang-orang yang   pernah mengalami sebagian alam kasyaf, mereka tidak akan heran melihat tubuh semacam itu yang dipersiapkan  dari amal perbuatan, bahkan mereka akan merasakan kelezatan dalam  masalah ini.
      Ringkasnya, tubuh yang diperoleh berdasarkan kondisi amal perbuatan itulah yang akan menjadi faktor ganjaran baik dan buruk  alam barzakh. Saya mempunyai pengalaman dalam hal ini. Acap kali secara kasyaf – dalam keadaan sadar --  saya mendapat kesempatan berjumpa dengan beberapa orang yang sudah meninggal dunia, dan saya melihat tubuh beberapa  orang fasiq (durhaka) serta orang sesat demikian hitamnya sehingga seakan-akan tubuh mereka  itu terbuat dari asap.
      Ringkasnya,  saya secara pribadi cukup mengenal kawasan ini, dan dengan tegas saya katakan – seperti yang telah difirmankan oleh Allah Ta'ala --  pasti akan demikian,  bahwa sesudah mati setiap orang  akan mendapat satu tubuh, baik berupa cahaya maupun kegelapan. Adalah kekeliruan manusia jika ia ingin membuktikan makrifat yang sangat halus ini hanya dengan perantaraan akal belaka, melainkan hendaknya dimaklumi bahwa sebagaimana mata tidak dapat menyatakan cita-rasa makanan manis, dan tidak pula lidah dapat melihat sesuatu,  demikian pulalah ilmu-ilmu ukhrawi – yang dapat diperoleh melalui kasyaf-kasyaf suci – tidak akan dapat diraih hanya  dengan  melalui perantaraan akal belaka. Allah Ta'ala telah menetapkan sarana-sarana tertentu secara terpisah untuk mengetahui hal-hal yang tidak berwujud di dunia ini. Jadi, carilah tiap sesuatu melalui sarananya masing-masing maka barulah akan kalian dapatkan.
         Satu hal lagi yang patut diingat, bahwa  Tuhan telah menamakan di dalam Kalam-Nya orang-orang yang jahat dan sesat sebagai orang mati, dan menyatakan orang-orang yang  beramal shalih sebagai orang hidup. Rahasianya ialah, orang-orang yang telah melupakan Allah Ta'ala, sarana-sarana kehidupan mereka --  yang digunakan untuk memuaskan nafsu makan, minum, dan syahwat --  telah terputus dan mereka tidak memperoleh makanan ruhani sedikitpun.  Jadi, pada hakikatnya mereka telah mati, dan mereka akan dibangkitkan hanya untuk memikul azab belaka. Ke arah rahasia inilah Allah Ta’ala mengisyaratkan sebagaimana Dia berfirman:
مَنْ يَأْتِ رَبَّهُ مُجْرِمًا فَإِنَّ لَهُ جَهَنَّمَ لَا يَمُوتُ فِيهَا وَلَا يَحْيَا
Yakni, barangsiapa yang datang kepada  Tuhan dalam keadaan berdosa baginya disediakan tempat di dalam neraka  jahannam, di dalamnya ia tidak akan mati dan tidak pula akan hidup (QS. Tha Ha[20]:75). Akan tetapi orang-orang yang mencintai Allah tidak mati oleh maut, sebab minuman dan makanan mereka ada beserta mereka.
        (3) Alam Ketiga dinamakan  Alam Kebangkitan. Sesudah  Alam Barzakh kemudian datanglah zaman yang dinamakan Alam Kebangkitan. Pada masa ini setiap ruh – yang baik maupun yang buruk, yang shalih maupun yang fasiq (durhaka) --  akan mendapat tubuh nyata, dan Hari itu telah ditetapkan untuk penampakan-penampakan Tuhan seutuhnya, ketika setiap insan akan mengenali Wujud Tuhan dengan sejelas-jelasnya, dan setiap orang akan mencapai titik akhir ganjarannya.
          Hendaknya jangan heran mengapa Tuhan akan berbuat demikian, sebab  Dia memiliki segala kekuasaan. Apa yang dikehendaki-Nya dikerjakan-Nya, sebagaimana Dia  Sendiri berfirman:
أَوَلَمْ يَرَ الْإِنْسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِنْ نُطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُبِينٌ  وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَنَسِيَ خَلْقَهُ قَالَ مَنْ يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ  قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنْشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ .............أَوَلَيْسَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يَخْلُقَ مِثْلَهُمْ بَلَى وَهُوَ الْخَلَّاقُ الْعَلِيمُ  إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ  فَسُبْحَانَ الَّذِي بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
Yakni, apakah manusia tidak melihat bahwa Kami telah menciptakannya dari setetes air   yang dimasukkan ke dalam rahim kemudian ia menjadi seorang pembantah. Ia mulai membuat-buat perkara mengenai Kami dan melupakan peristiwa penciptaan dirinya, dan dia akan berkata, "Bagaimana mungkin dapat terjadi, tatkala tulang-belulang pun tidak   selamat lagi maka bagaimana mungkin akan hidup kembali. Siapa pula yang mempunyai kekuasaan demikian sehingga dapat menghidupkannya?" Katakanlah kepada mereka, "Yang akan menghidupkannya adalah Dia Yang telah menciptakannya pertama kali, dan Dia mengetahui segala macam dan cara untuk menghidupkan…… Begitu hebat perintah-Nya sehingga manakala Dia menghendaki sesuatu Dia hanya mengatakan, "Jadilah! maka jadilah ia. Jadi, Maha Suci-lah Dzat Yang memiliki kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada Dia-lah kamu sekalian akan kembali (QS. Yaasin[36]:78-80 & 82-84).
         Jadi, di dalam ayat-ayat ini Allah Ta’ala   berfirman bahwa di hadapan Tuhan tidak  ada sesuatu yang mustahil, Dia-lah Yang telah menciptakan manusia dari setetes air yang tidak berarti, apakah Dia tidak mampu menghidupkan  untuk kedua kalinya?
          Di sini dapat timbul pertanyaan dari pihak yang kurang paham. Yaitu Alam Ketiga atau Alam Kebangkitan akan datang sesudah jangka waktu yang amat lama, maka dalam keadaan yang demikian -- bagi setiap orang yang baik dan yang buruk --  Alam Barzakh merupakan suatu tempat tahanan dan tampak sia-sia.
        Jawabannya adalah, pengertian demikian sama sekali keliru, yang timbul karena kekurang-pahaman belaka. Justru di dalam Kitab Allah Ta'ala terdapat dua tempat untuk ganjaran baik  dan buruk. Yang pertama adalah alam barzakh, yang di dalamnya setiap orang akan memperoleh ganjarannya secara terselubung. Orang-orang jahat setelah mati akan langsung masuk ke dalam neraka, orang-orang baik setelah mati akan langsung mendapatkan ketentraman di dalam surga. 
          Banyak terdapat ayat-ayat semacam itu di dalam  Quran Syarif bahwa segera sesudah mati setiap insan akan melihat ganjaran atas amal perbuatannya, sebagaimana Allah Ta'ala mengabarkan tentang seorang penghuni surga dan berfirman:
قِيلَ ادْخُلِ الْجَنَّةَ
Yakni, telah dikatakan kepadanya, "Masuklah engkau ke dalam surga" (QS. Yaasin[36]:27). Dan demikian pula Dia mengabarkan tentang seorang penghuni neraka, lalu berfirman:
فَرَآهُ فِي سَوَاءِ الْجَحِيمِ
Yakni, orang (ahli) surga mempunyai  teman orang (ahli) neraka, ketika keduanya meninggal maka orang (ahli) surga merasa heran ke mana kawannya pergi. Maka kepadanya diperlihatkan bahwa temannya itu berada di tengah-tengah neraka Jahannam (QS. Ash-Shaffat[37]:56).
         Jadi, pelaksanaan ganjaran dan hukuman itu berlaku segera. Ahli neraka masuk neraka dan ahli  surga masuk surga. Akan tetapi sesudah itu akan datang hari lain penampakkan agung yang dizahirkan oleh hikmah agung Tuhan. Sebab Dia telah menciptakan manusia agar Dia dikenali melalui sifat penciptaan-Nya. Kemudian Dia akan membinasakan semuanya  supaya Dia dikenali melalui sifat keperkasaan-Nya. Dan kemudian pada suatu hari Dia akan menganugerahkan kepada semuanya suatu kehidupan sempurna, lalu akan menghimpun mereka di suatu lapangan agar Dia dikenali melalui sifat kekuasaan-Nya. Kini hendaknya diketahui bahwa itulah rahasia makrifat pertama di antara rahasia-rahasia makrifat tersebut di atas yang telah diuraikan.